Minggu, 03 November 2019



LAPORAN KUNJUNGAN
MONUMEN KESAKTIAN PANCASILA
JAKARTA TIMUR







 
  


  

Disusun Oleh :
AYU LESTARI
170113020049
AP M 259






Daftar Isi





BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia adalah sebuah negara yang syarat akan sejarah. Sejarah adalah suatu peristiwa yang pernah terlewatkan dan tak akan pernah terulang kembali. Peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak dapat di ulang. Peristiwa sejarah juga tidak pernah bisa di ubah.

Peristiwa sejarah yang ada di Indonesia selalu di ingat oleh masyarakat bahkan selalu di wariskan turun temurun hingga kini agar peristiwa tersebut tidak hilang. Salah satu bentuk pelestarian sejarah tersebut adalah dengan didirikanya sebuah musium atau monumen.

Monumen Pancasila Sakti adalah salah satu bentuk monumen yang didirikan untuk mengenang peristiwa G 30 S PKI. Oleh karena itu, untuk mempelajari sebuah sejarah dan melestarikanya kami melakukan perjalanan karya wisata ke Monumen pancasila. Lebih tepatnya ke musium lubang buaya.

Agar rumusan masalah ini lebih terarah, maka penulis membatasi masalah dalam penulisan ini. Masalah yang penulis bahas yaitu seputar Objek Wisata Monumen Lubang Buaya dan sekitarnya saja.


Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah :
1.    Untuk memenuhi persyaratan Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.
2.    Untuk menambah pengetahuan mahasiswa/i dalam mendalami sejarah Indonesia
3.    Untuk memupuk rasa cinta terhadap Tanah Air Dan Bangsa.
4.    Dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan yang telah didapat sehingga dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Metode yang digunakan penulis yaitu :
           1.   Metode Observasi
Dalam metode ini penulis mendapatkan data dengan cara mengamati langsung obyek yang dituju yaitu Monumen Lubang Buaya.
            2.   Metode Pustaka
Yaitu metode yang menggunakan sumber-sumber pustaka berupa data-data seperti artikel, makalah, dan lainnya.



BAB II

PEMBAHASAN










Dalam sejarah bangsa Indonesia pernah terjadi berbagai peristiwa kelam yang menandai perjalanan Indonesia sebagai suatu negara yang berdaulat. Salah satunya adalah peristiwa G30S PKI yang terjadi pada tanggal 30 September 1965. Sejarah PKI atau Partai Komunis Indonesia sudah lama melakukan berbagai cara untuk membuat Indonesia menjadi negara berpaham komunis. Berbagai pemberontakan Tokoh G30S PKI lakukan hingga mencapai puncaknya pada pemberontakan 30 September ini termasuk dengan membantai para perwira tinggi TNI.

Tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai hari kesaktian Pancasila yang menandakan bahwa Pancasila serta bangsa Indonesia selamat dari upaya kudeta dan penggantian ideologi negara. Pada saat pemberontakan itu, Jenderal AH. Nasution berhasil selamat karena melarikan diri namun ajudannya Pierre Tendean dan putrinya Ade Irma Nasution yang berusia lima tahun tewas akibat kekejaman pemberontak. Para Jenderal dan Pierre Tendean dibawa ke daerah Lubang Buaya termasuk yang sudah tewas. Yang masih hidup kemudian disiksa sampai meninggal dunia disana dan jenazah mereka dibuang ke dalam satu sumur tua di kawasan Lubang Buaya tersebut. Segenap kesatuan TNI/ABRI berusaha mencari lokasi persembunyian PKI yang membawa para perwira tersebut hingga akhirnya diketahui bahwa mereka semua sudah dibunuh secara kejam dan dibuang ke dalam sumur.
Pada saat bersamaan pemberontak PKI berhasil menguasai dua sarana komunikasi penting yaitu RRI Pusat dan Pusat Telekomunikasi di Jalan Merdeka Barat dan Jalan Merdeka Selatan. Mereka menyiarkan pembentukan “Dewan Revolusi” di pusat dan daerah pada siaran pukl 07.20 dan 08.15 pagi. Dewan Revolusi kelak akan menjadi sumber dari segala kekuasaan yang ada dalam RI. Mereka juga mengumumkan Tujuan Organisasi PKI lain gerakan tersebut untuk menyasar para Jenderal yang dikatakan tergabung dalam isu Dewan Jenderal yang berniat menggulingkan pemerintah. Pada saat yang bersamaan juga diumumkan penonaktifan Kabinet Dwikora, lalu pada pukul 14.00 kembali diumumkan bahwa Dewan Revolusi akan diketuai oleh Letkol Untung dan wakil – wakilnya yaitu Brigjen Supardjo, Letkol Udara Heru, Laut Sunandi, juga Ajun Komisaris Besar Polisi.
Dalam sejarah Monumen Pancasila Sakti dibangun untuk menyatakan bahwa Pancasila tidak berhasil digoyahkan oleh usaha pemberontakan apapun dan akan tetap tegak berdiri sebagai ideologi negara yang sah. Pemberontakan PKI dapat ditumpas dalam waktu singkat yang menunjukkan bahwa Pancasila tidak dapat diganggu gugat dan siapapun yang mencobanya akan dibasmi sampai tuntas. Paham komunis adalah ideologi yang berbahaya dan bisa menyengsarakan rakyat, karena itu pendirian sejarah Monumen Pancasila Sakti dilakukan untuk memperingati momen berdarah tersebut dan sebagai pengingat akan kejamnya komunis.
Kisah pemberontakan dituangkan dalam kronologi G30S PKI yang divisualisasikan melalui relief dan diorama yang terdapat pada sejarah museum lubang buaya untuk memberi gambaran bagaimana kejamnya tindakan PKI waktu itu. diharapkan para pengunjung dapat mengetahui bagaimana sejarah G30S PKI lengkap dan tragedi berdarah yang diakibatkan oleh pemberontakan PKI sehingga lebih mewaspadai akan adanya bahaya komunis.
Monumen ini bertempat di atas tanah seluas 14,6 hektar untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para Pahlawan Revolusi yang mempertahankan ideologi negara Indonesia yaitu Pancasila dari serangan ideologi komunis. Monumen Pancasila Sakti mulai dibangun pada pertengahan Agustus 1967 hingga diresmikan pada 1 Oktober 1973 oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan sejarah hari Kesaktian Pancasila. Bersamaan dengan pembangunan monumen, juga dibangun cungkup pada sumur yang menjadi lokasi pembuangan jenazah. Pada hakekatnya tujuan pembangunan Monumen Pancasila Sakti yaitu:
1.   Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam membela negara, bangsa dan Pancasila hingga titik darah penghabisan mereka.
2.   Membina semangat Korsa prajurit TNI
3.   Sebagai monumen peringatan bagi perjuangan nasional Indonesia.
4.   Sebagai cermin perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia pada dunia internasional.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka selain melestarikan sejarah Monumen Pancasila Sakti berdasarkan Surat Keputusan Menpangad no. Kep. 977/9/1966 tanggal 17 September 1966, setiap tahunnya pada tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Peringatan dilakukan dengan melaksanakan upacara kesaktian Pancasila untuk mengenang tragedi nasional yang terjadi akibat pengkhianatan kepada Pancasila.



      


Monumen Pahlawan Revolusi  dibangun atas gagasan Presiden ke-2 IndonesiaSoeharto. Dibangun di atas tanah seluas 14,6 hektar. Monumen ini dibangun dengan tujuan mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankanideologi negara Republik IndonesiaPancasila dari ancaman ideologi komunis.
Keenam pahlawan revolusi tersebut adalah:
1.  Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Ahmad Yani,
2.  Mayjen TNI R. Suprapto
3.  Mayjen TNI M.T. Haryono
4.  Mayjen TNI Siswondo Parman
5.  Brigjen TNI DI Panjaitan
6.  Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo

Jenderal TNI A.H. Nasution juga disebut sebagai salah seorang target namun dia selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut.
Monumen yang terletak di daerah Lubang BuayaCipayungJakarta Timur ini, berisikan bermacam-macam hal dari masa pemberontakan G30S - PKI, seperti pakaian asli para Pahlawan Revolusi.




Adanya peristiwa G30S/PKI menjadikan September sebagai bulan yang memiliki signifikansi cukup besar dalam sejarah Indonesia.
Peristiwa G30S/PKI merupakan pembunuhan terhadap perwira tinggi TNI Angkatan Darat (AD) Indonesia tepat pada 30 September sampai 1 Oktober 1965. Para jenderal yang menjadi korban penyiksaan keji PKI adalah
Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Siswandono Parman, Jenderal Suprapto, Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Jenderal MT Haryono, Jenderal Donald Ifak Panjaitan, dan Kapten Pierre Andreas Tendean.

Para korban dibunuh dan dimasukkan dalam sebuah sumur yang diberi nama Sumur Lubang Buaya. Setelah diangkat dari sumur, kesemua jenazah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Untuk memperingati pengorbanan para Pahlawan Revolusi, dibangunlah beberapa museum dan monumen. Satu di antara spot untuk mengenang peristiwa berdarah G30S/PKI adalah bagian sumur Lubang Buaya yang terletak di satu kompleks yang sama dengan Monumen Pancasila Sakti.

Sumur Lubang Buaya merupakan sumur berdiameter 75 centimeter dengan kedalaman 12 meter dan menjadi sumur maut bagi para korban kebiadaban PKI. Ini berarti, para korban yang dibuang ke dalam sumur berada dalam kondisi saling bertumpuk karena dengan ukuran diameter itu, sumur maut Lubang Buaya hanya mampu memuat satu badan.
Sumur maut ini menjadi satu spot utama di Kompleks Memorial Lubang Buaya dan berada di depan Monumen Pancasila.

Lubang sumur berada di tiga bangunan yang menjadi saksi bisu peristiwa G30S/PKI.
Yakni tiga rumah yang masing-masing dijadikan tempat penyiksaan, pos komando, dan dapur umum.
Kondisi bangunan tersebut masih dipertahankan seperti keadaannya pada saat G30S/PKI terjadi.
Sementara di sisi kiri dan kanan, ada pagar pembatas untuk mencegah pengunjung melemparkan sesuatu ke dalam sumur.

       

Rumah Penyiksaan adalah tempat para Pahlawan Revolusi disiksa untuk menandatangani surat pernyataan untuk mendukung komunisme di Indonesia, mereka disiksa seblum akhirnya dibunuh, ditempat ini ditampilkan diorama penyiksaan 7 pahlawan Revolusi beserta kisah dimulainya Pemberontakan PKI, dahulu tempat ini merupakan sebuah sekolah rakyat atau sekarang lebih dikenal SD dan dialaih fungssikan oleh PKI sebagai tempat penyiksaan para Pahlawan Revolusi.


       

Rumah pos komando awalnya hanya ruman penduduk lokal di RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Pada saat peristiwa G30S/PKI tahun 1965 rumah ini dipergunakan oleh pimpinan gerakan G30S/PKI yaitu Letkol Untung untuk dipakai sebagai pos komando dalam rangka mempersiapkan gerakan penculikan terhadap para jenderal perwira TNI AD.
       

Maka pada tanggal 30 September 1965 sekitar pukul 24.00 WIB, dirumah Pos Komando ini dikumpulkan sejumlah pasukan Pasopati untuk diberikan pengarahan tentang tata cara penculikan.
Maka sebagai bukti sejarah bagi generasi muda, rumah ini tetap dilestarikan hingga saat ini. Didalam rumah ini masih tersimpan beberapa barang peninggalan bersejarah seperti lampu petromaks, lemari kaca, tempat tidur, mesin jahit dan yang lainnya.

        



Rumah Dapur Umum ini merupakan salah satu saksi sejarah yang digunakan oleh ge rombolan PKI waktu itu sebagai bangunan yang dipakai guna memasok bahan pangan selama G30S/PKI berlangsung di lokasi kejadian.
       

Awalnya rumah ini adalah rumah pribadi milik Ibu Amroh yang kemudian digunakan oleh PKI sebagai tempat penyediaan komsumsi bagi para gerombolan PKI. Beberapa benda bersejarah yang masih dapat dilihat di Rumah Dapur Umum ini antara lain alat memasak (wajan, dandang, pawon,dll) didalam rumah ada lemari, kerangka ranjang, beberapa genteng sisa peninggalan dan sebagainya.
Cara PKI untuk “menguasai” rumah penduduk lokal adalah dengan memerintahkan para penduduk lokal untuk mengungsi sementara waktu dengan alasan bahwa kawasan itu akan digunakan sebagai lokasi latihan perang.

        

Museum Pengkhianatan PKI sebenarnya masih termasuk kompleks Museum Lubang Buaya.
Di dalam museum terdapat beberapa diorama yang menunjukkan peristiwa terjadinya pemberontakan PKI.

Peristiwa yang tergambar pada diorama ini adalah Peristiwa Tiga Daerah yang terjadi pada 4 November 1945. Peristiwa Tiga Daerah merupakan upaya kelompok komunis bawah tanah yang menyusupi ormas dan gerakan pemuda dan merebut kekuasaan pemerintah di Tegal, Brebes, dan Pekalongan.
Selain itu, beberapa diorama menggambarkan peristiwa lain terkait G30S/PKI. Seperti diorama rapat persiapan pemberontakan PKI, latihan sukarelawan PKI di Lubang Buaya pada 5 Juli hingga 30 September 1965, penculikan Letjen TNI A Yani, penganiayaan di Lubang Buaya yang terjadi pada 1 Oktober 1965. Juga pengamanan Halim Perdanakusuma pada 2 Oktober, pengangkatan jenazah korban PKI pada 4 Oktober. Serta proses lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar pada 11 Maret 1966, dan beberapa diorama lainnya.

        
Berikut beberapa diorama yang ada di dalam Musium Pengkhianatan PKI. Total ada 34 diorama yang terdapat di Museum Pengkhianatan PKI.
Selain itu, Museum Pengkhianatan PKI juga memiliki koleksi ratusan benda bersejarah yang terkait G30S/PKI. Termasuk foto-foto para anggota pemberontakan PKI dan foto proses pengangkatan 7 jenazah para petinggi TNI dari dalam sumur.
Lalu ada koleksi pakaian yang terakhir dikenakan oleh para petinggi TNI yang menjadi korban pembantaian PKI. Serta beberapa kliping pemberitaan PKI saat itu.
Museum Paseban yang terletak di Kompleks Monumen Pahlawan Revolusi ini diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Oktober 1981 bertepatan dengan Dwi Wndu Hari Kesaktian Pancasila, didalam ruangan ini terdapat beberapa diorama sebagai berikut:
1.  Rapat-Rapat Persiapan Pemberontakan (September 1965)
2.  Latihan sukarelawan di Lubang Buaya (5 Juli-30 September 1965)
3.  Penculikan Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani (1 Oktober 1965)
4.  Penganiayaan di Lubang Buaya (1 Oktober 1965)
5.  Pengamanan Lanuma Halim Perdanakusuma (2 Oktober 1965)
6.  Pengangkatan Jenazah Pahlawan Revolusi (4 Oktober 1965)
7.  Proses lahirnya Supersemar (11 Maret 1966)
8.  Pelantikan Jenderal Soeharto sebagai Presiden  (12 Maret 1967)
9.  Tindak Lanjut Pelarangan PKI (26 Juni 1982)

Selain itu tempat ini juga terdapat Foto ke 7 Pahlawan Revolusi, yang ukuran foto tersebut sudah diperbesar dari aslinya.
Dan adanya Ruang Relik yang merupakan tempat dipamerkannya barang-barang, terutama pakaian yang mereka kenakan ketika mereka di culik, di siksa, sampai akhirnya dibunuh, berikut dengan hasil visum dari dokter. Selain itu terdapat pula Aqualung sebuah alat bantu pernapasan yang digunakan untuk mengangkat jenazah 7 Pahlawan Revolusi dari dalam sumur tua.
Selain itu terdapat pula Ruang Teater yang memutar rekaman bersejarah pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi, Pemakaman ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan lain-lain.






BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

1.  Lubang Buaya adalah sebuah tempat di kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para korban Gerakan 30 September pada 30 September 1965. Secara spesifik, sumur Lubang Buaya terletak di Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
2.   Dengan adanya Monumen Pancasila Sakti diharapkan generasi muda agar mengetahui dan memahami Peristiwa sejarah yang ada.
3.   Monumen Pancasila Sakti adalah tempat yang baik untuk pengamatan dan penelitian.
4.   Dengan berdirinya Monumen Pancasila Sakti merupakan salah satu Obyek sejarah di Indonesia.
5.   Sejarah suatu daerah berarti pula sejarah seluruh bangsa Indonesia. Dengan demikian kita harus memegang teguh semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang diikuti sifat persatuannya.
1.  Kita harus dapat menjunjung tinggi nama baik bangsa dan Negara.
2.  Monumen Pancasila Sakti harus di jaga kelestariannya supaya tetap utuh keasliannya, karena sejarah adalah cermin kekayaan bangsa.
3.  Kita sebagai generasi penerus harus dapat meneruskan cita-cita Bangsa
4.  Kita harus mempelajari serta mengambil hikmah yang terdapat di Monumen Pancasila Sakti.