LAPORAN KUNJUNGAN
MONUMEN KESAKTIAN PANCASILA
JAKARTA TIMUR
Disusun Oleh :
AYU LESTARI
170113020049
AP M 259
Daftar Isi
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia adalah sebuah negara yang syarat akan
sejarah. Sejarah adalah suatu peristiwa yang pernah terlewatkan dan tak akan
pernah terulang kembali. Peristiwa sejarah hanya terjadi satu kali dan tidak
dapat di ulang. Peristiwa sejarah juga tidak pernah bisa di ubah.
Peristiwa sejarah yang ada di Indonesia selalu di
ingat oleh masyarakat bahkan selalu di wariskan turun temurun hingga kini agar
peristiwa tersebut tidak hilang. Salah satu bentuk pelestarian sejarah tersebut
adalah dengan didirikanya sebuah musium atau monumen.
Monumen Pancasila Sakti adalah salah satu bentuk
monumen yang didirikan untuk mengenang peristiwa G 30 S PKI. Oleh karena itu,
untuk mempelajari sebuah sejarah dan melestarikanya kami melakukan perjalanan
karya wisata ke Monumen pancasila. Lebih tepatnya ke musium lubang buaya.
Agar rumusan masalah ini lebih terarah, maka penulis
membatasi masalah dalam penulisan ini. Masalah yang penulis bahas yaitu seputar
Objek Wisata Monumen Lubang Buaya dan sekitarnya saja.
Tujuan yang hendak dicapai
dalam penulisan ini adalah :
1. Untuk memenuhi persyaratan Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan.
2. Untuk menambah pengetahuan mahasiswa/i dalam mendalami sejarah Indonesia
3. Untuk memupuk rasa cinta terhadap Tanah Air Dan Bangsa.
4. Dapat menerapkan ilmu dan
pengetahuan yang telah didapat sehingga dapat bermanfaat dalam kehidupan
sehari-hari.
Metode yang digunakan
penulis yaitu :
1. Metode Observasi
Dalam metode ini penulis mendapatkan data dengan cara
mengamati langsung obyek yang dituju yaitu Monumen Lubang Buaya.
2. Metode Pustaka
Yaitu metode yang
menggunakan sumber-sumber pustaka berupa data-data seperti artikel, makalah,
dan lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai
hari kesaktian Pancasila yang menandakan bahwa Pancasila serta bangsa Indonesia
selamat dari upaya kudeta dan penggantian ideologi negara. Pada saat pemberontakan
itu, Jenderal AH. Nasution berhasil selamat karena melarikan diri namun
ajudannya Pierre Tendean dan putrinya Ade Irma Nasution yang berusia lima tahun
tewas akibat kekejaman pemberontak. Para Jenderal dan Pierre Tendean dibawa ke
daerah Lubang Buaya termasuk yang sudah tewas. Yang masih hidup kemudian
disiksa sampai meninggal dunia disana dan jenazah mereka dibuang ke dalam satu
sumur tua di kawasan Lubang Buaya tersebut. Segenap kesatuan TNI/ABRI berusaha
mencari lokasi persembunyian PKI yang membawa para perwira tersebut hingga
akhirnya diketahui bahwa mereka semua sudah dibunuh secara kejam dan dibuang ke
dalam sumur.
Pada saat bersamaan pemberontak PKI
berhasil menguasai dua sarana komunikasi penting yaitu RRI Pusat dan Pusat
Telekomunikasi di Jalan Merdeka Barat dan Jalan Merdeka Selatan. Mereka
menyiarkan pembentukan “Dewan Revolusi” di pusat dan daerah pada siaran pukl
07.20 dan 08.15 pagi. Dewan Revolusi kelak akan menjadi sumber dari segala
kekuasaan yang ada dalam RI. Mereka juga mengumumkan Tujuan Organisasi
PKI lain gerakan tersebut untuk menyasar para Jenderal yang dikatakan
tergabung dalam isu Dewan Jenderal yang berniat menggulingkan pemerintah. Pada
saat yang bersamaan juga diumumkan penonaktifan Kabinet Dwikora, lalu pada
pukul 14.00 kembali diumumkan bahwa Dewan Revolusi akan diketuai oleh Letkol
Untung dan wakil – wakilnya yaitu Brigjen Supardjo, Letkol Udara Heru, Laut
Sunandi, juga Ajun Komisaris Besar Polisi.
Dalam
sejarah Monumen Pancasila Sakti dibangun untuk menyatakan bahwa Pancasila tidak
berhasil digoyahkan oleh usaha pemberontakan apapun dan akan tetap tegak
berdiri sebagai ideologi negara yang sah. Pemberontakan PKI dapat ditumpas
dalam waktu singkat yang menunjukkan bahwa Pancasila tidak dapat diganggu gugat
dan siapapun yang mencobanya akan dibasmi sampai tuntas. Paham komunis adalah
ideologi yang berbahaya dan bisa menyengsarakan rakyat, karena itu pendirian
sejarah Monumen Pancasila Sakti dilakukan untuk memperingati momen berdarah
tersebut dan sebagai pengingat akan kejamnya komunis.
Kisah pemberontakan dituangkan dalam kronologi G30S PKI yang
divisualisasikan melalui relief dan diorama yang terdapat pada sejarah museum
lubang buaya untuk memberi gambaran bagaimana kejamnya tindakan PKI waktu itu.
diharapkan para pengunjung dapat mengetahui bagaimana sejarah G30S PKI lengkap
dan tragedi berdarah yang diakibatkan oleh pemberontakan PKI sehingga lebih
mewaspadai akan adanya bahaya komunis.
Monumen ini
bertempat di atas tanah seluas 14,6 hektar untuk mengenang perjuangan dan
pengorbanan para Pahlawan Revolusi yang mempertahankan ideologi negara
Indonesia yaitu Pancasila dari serangan ideologi komunis. Monumen Pancasila
Sakti mulai dibangun pada pertengahan Agustus 1967 hingga diresmikan pada 1
Oktober 1973 oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan sejarah hari Kesaktian
Pancasila. Bersamaan dengan pembangunan monumen, juga dibangun cungkup pada
sumur yang menjadi lokasi pembuangan jenazah. Pada hakekatnya tujuan
pembangunan Monumen Pancasila Sakti yaitu:
1.
Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam
membela negara, bangsa dan Pancasila hingga titik darah penghabisan mereka.
2.
Membina semangat Korsa prajurit TNI
3.
Sebagai monumen peringatan bagi perjuangan nasional
Indonesia.
4.
Sebagai cermin perjuangan yang dilakukan bangsa
Indonesia pada dunia internasional.
Untuk
mencapai tujuan tersebut, maka selain melestarikan sejarah Monumen Pancasila
Sakti berdasarkan Surat Keputusan Menpangad no. Kep. 977/9/1966 tanggal 17
September 1966, setiap tahunnya pada tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari
Kesaktian Pancasila. Peringatan dilakukan dengan melaksanakan upacara kesaktian
Pancasila untuk mengenang tragedi nasional yang terjadi akibat pengkhianatan
kepada Pancasila.
Monumen
Pahlawan Revolusi
dibangun atas gagasan Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto.
Dibangun di atas tanah seluas 14,6 hektar. Monumen ini dibangun dengan tujuan
mengingat perjuangan para Pahlawan Revolusi yang berjuang mempertahankanideologi negara Republik Indonesia, Pancasila dari
ancaman ideologi komunis.
Keenam pahlawan revolusi tersebut
adalah:
Jenderal TNI A.H. Nasution juga
disebut sebagai salah seorang target namun dia selamat dari upaya pembunuhan
tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani
Nasution dan
ajudan AH Nasution, Lettu Pierre Tendean tewas
dalam usaha pembunuhan tersebut.
Monumen
yang terletak di daerah Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur ini,
berisikan bermacam-macam hal dari masa pemberontakan G30S - PKI, seperti pakaian asli para Pahlawan
Revolusi.
Adanya peristiwa G30S/PKI menjadikan September sebagai
bulan yang memiliki signifikansi cukup besar dalam sejarah Indonesia.
Peristiwa G30S/PKI merupakan pembunuhan terhadap
perwira tinggi TNI Angkatan Darat (AD) Indonesia tepat pada 30 September
sampai 1 Oktober 1965. Para jenderal yang menjadi korban penyiksaan keji PKI
adalah
Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Siswandono Parman,
Jenderal Suprapto, Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Jenderal MT Haryono, Jenderal
Donald Ifak Panjaitan, dan Kapten Pierre Andreas Tendean.
Para korban dibunuh dan dimasukkan dalam sebuah sumur
yang diberi nama Sumur Lubang Buaya. Setelah diangkat dari sumur, kesemua
jenazah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Untuk memperingati
pengorbanan para Pahlawan Revolusi, dibangunlah beberapa museum dan monumen. Satu
di antara spot untuk mengenang peristiwa berdarah G30S/PKI adalah bagian sumur
Lubang Buaya yang terletak di satu kompleks yang sama dengan Monumen Pancasila
Sakti.
Sumur Lubang Buaya merupakan sumur berdiameter 75
centimeter dengan kedalaman 12 meter dan menjadi sumur maut bagi para korban
kebiadaban PKI. Ini berarti, para korban yang dibuang ke dalam sumur berada
dalam kondisi saling bertumpuk karena dengan ukuran diameter itu, sumur maut
Lubang Buaya hanya mampu memuat satu badan.
Sumur maut ini menjadi satu spot utama di Kompleks
Memorial Lubang Buaya dan berada di depan Monumen Pancasila.
Lubang sumur berada di tiga bangunan yang menjadi
saksi bisu peristiwa G30S/PKI.
Yakni tiga rumah yang masing-masing dijadikan tempat
penyiksaan, pos komando, dan dapur umum.
Kondisi bangunan tersebut masih dipertahankan seperti
keadaannya pada saat G30S/PKI terjadi.
Sementara di sisi kiri dan kanan, ada pagar pembatas
untuk mencegah pengunjung melemparkan sesuatu ke dalam sumur.
Rumah
Penyiksaan adalah tempat para Pahlawan Revolusi disiksa untuk menandatangani surat
pernyataan untuk mendukung komunisme di Indonesia,
mereka disiksa seblum
akhirnya dibunuh, ditempat ini ditampilkan diorama
penyiksaan 7 pahlawan Revolusi beserta kisah dimulainya Pemberontakan PKI, dahulu tempat ini merupakan sebuah
sekolah rakyat atau sekarang lebih dikenal SD dan dialaih fungssikan oleh PKI
sebagai tempat penyiksaan para Pahlawan Revolusi.
Rumah pos komando awalnya hanya
ruman penduduk lokal di RW 02 Lubang Buaya bernama Haji Sueb. Pada saat
peristiwa G30S/PKI tahun 1965 rumah ini dipergunakan oleh pimpinan gerakan
G30S/PKI yaitu Letkol Untung untuk dipakai sebagai pos komando dalam rangka
mempersiapkan gerakan penculikan terhadap para jenderal perwira TNI AD.
Maka pada tanggal 30 September 1965
sekitar pukul 24.00 WIB, dirumah Pos Komando ini dikumpulkan sejumlah pasukan
Pasopati untuk diberikan pengarahan tentang tata cara penculikan.
Maka sebagai bukti sejarah bagi
generasi muda, rumah ini tetap dilestarikan hingga saat ini. Didalam rumah ini
masih tersimpan beberapa barang peninggalan bersejarah seperti lampu petromaks,
lemari kaca, tempat tidur, mesin jahit dan yang lainnya.
Rumah Dapur Umum ini merupakan salah
satu saksi sejarah yang digunakan oleh ge rombolan PKI waktu itu sebagai
bangunan yang dipakai guna memasok bahan pangan selama G30S/PKI berlangsung di
lokasi kejadian.
Awalnya rumah ini adalah rumah
pribadi milik Ibu Amroh yang kemudian digunakan oleh PKI sebagai tempat
penyediaan komsumsi bagi para gerombolan PKI. Beberapa benda bersejarah yang
masih dapat dilihat di Rumah Dapur Umum ini antara lain alat memasak (wajan,
dandang, pawon,dll) didalam rumah ada lemari, kerangka ranjang, beberapa
genteng sisa peninggalan dan sebagainya.
Cara PKI untuk “menguasai” rumah
penduduk lokal adalah dengan memerintahkan para penduduk lokal untuk mengungsi
sementara waktu dengan alasan bahwa kawasan itu akan digunakan sebagai lokasi
latihan perang.
Museum
Pengkhianatan PKI sebenarnya masih termasuk kompleks Museum Lubang Buaya.
Di
dalam museum terdapat beberapa diorama yang menunjukkan peristiwa terjadinya
pemberontakan PKI.
Peristiwa
yang tergambar pada diorama ini adalah Peristiwa Tiga Daerah yang terjadi pada
4 November 1945. Peristiwa Tiga Daerah merupakan upaya kelompok komunis bawah
tanah yang menyusupi ormas dan gerakan pemuda dan merebut kekuasaan pemerintah
di Tegal, Brebes, dan Pekalongan.
Selain itu,
beberapa diorama menggambarkan peristiwa lain terkait G30S/PKI. Seperti diorama
rapat persiapan pemberontakan PKI, latihan sukarelawan PKI di Lubang Buaya pada
5 Juli hingga 30 September 1965, penculikan Letjen TNI A Yani, penganiayaan di
Lubang Buaya yang terjadi pada 1 Oktober 1965. Juga pengamanan Halim
Perdanakusuma pada 2 Oktober, pengangkatan jenazah korban PKI pada 4 Oktober.
Serta proses lahirnya Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar pada 11
Maret 1966, dan beberapa diorama lainnya.
Berikut beberapa diorama yang ada di dalam Musium Pengkhianatan PKI. Total ada 34 diorama
yang terdapat di Museum Pengkhianatan PKI.
Selain itu,
Museum Pengkhianatan PKI juga memiliki koleksi ratusan benda bersejarah yang
terkait G30S/PKI. Termasuk foto-foto para anggota pemberontakan PKI dan foto
proses pengangkatan 7 jenazah para petinggi TNI dari dalam sumur.
Lalu ada
koleksi pakaian yang terakhir dikenakan oleh para petinggi TNI yang menjadi
korban pembantaian PKI. Serta beberapa kliping pemberitaan PKI saat itu.
Museum Paseban yang terletak
di Kompleks Monumen Pahlawan Revolusi ini diresmikan
oleh Presiden Soeharto pada tanggal 1 Oktober 1981 bertepatan
dengan Dwi Wndu Hari Kesaktian Pancasila, didalam ruangan ini
terdapat beberapa diorama sebagai berikut:
1. Rapat-Rapat
Persiapan Pemberontakan (September 1965)
2. Latihan sukarelawan
di Lubang Buaya (5 Juli-30 September 1965)
3. Penculikan Letnan Jenderal TNI Ahmad
Yani (1 Oktober 1965)
4. Penganiayaan di Lubang
Buaya (1 Oktober 1965)
5. Pengamanan Lanuma Halim
Perdanakusuma (2 Oktober 1965)
6. Pengangkatan Jenazah Pahlawan
Revolusi (4 Oktober 1965)
7. Proses
lahirnya Supersemar (11 Maret 1966)
8. Pelantikan Jenderal Soeharto sebagai Presiden
(12 Maret 1967)
9. Tindak
Lanjut Pelarangan PKI (26 Juni 1982)
Selain itu tempat ini juga terdapat
Foto ke 7 Pahlawan Revolusi, yang ukuran foto tersebut sudah diperbesar
dari aslinya.
Dan
adanya Ruang Relik yang merupakan tempat dipamerkannya
barang-barang, terutama pakaian yang
mereka kenakan ketika mereka di culik, di siksa, sampai akhirnya dibunuh, berikut
dengan hasil visum dari dokter. Selain itu
terdapat pula Aqualung sebuah alat bantu pernapasan yang digunakan
untuk mengangkat jenazah 7 Pahlawan Revolusi dari dalam sumur tua.
Selain itu terdapat pula
Ruang Teater yang memutar rekaman
bersejarah pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi, Pemakaman
ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, dan lain-lain.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Lubang Buaya adalah sebuah tempat di
kawasan Pondok Gede, Jakarta yang menjadi tempat pembuangan para korban Gerakan
30 September pada 30 September 1965. Secara spesifik, sumur Lubang Buaya
terletak di Kelurahan Lubang Buaya di Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.
2.
Dengan adanya Monumen Pancasila Sakti
diharapkan generasi muda agar mengetahui dan memahami Peristiwa sejarah yang
ada.
3.
Monumen Pancasila Sakti adalah tempat
yang baik untuk pengamatan dan penelitian.
4.
Dengan berdirinya Monumen Pancasila
Sakti merupakan salah satu Obyek sejarah di Indonesia.
5.
Sejarah suatu daerah berarti pula
sejarah seluruh bangsa Indonesia. Dengan demikian kita harus memegang teguh
semboyan bangsa Indonesia, yaitu Bhineka Tunggal Ika yang
diikuti sifat persatuannya.
1. Kita harus dapat
menjunjung tinggi nama baik bangsa dan Negara.
2. Monumen Pancasila
Sakti harus di jaga kelestariannya supaya tetap utuh keasliannya, karena
sejarah adalah cermin kekayaan bangsa.
3. Kita sebagai generasi
penerus harus dapat meneruskan cita-cita Bangsa
4. Kita harus mempelajari
serta mengambil hikmah yang terdapat di Monumen Pancasila Sakti.













